|
Matraman (STMIK-MJ): Mempererat tali silaturahi ternyata tak hanya dengan seremonial formal, dengan musik pun kita dapat saling menghargai, karena musik adalah bahasa universal yang banyak diminati orang, dan menjadi salah satu bagian penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu sekelompok mahasiswa dari Gerakan Kreatifitas Mahasiswa (GKM) menggelar "Musik Pojok" dengan mengusung tema "Meningkatkan Semangat Kreativitas Mahasiswa STMIK-MJ" pada Hari Sabtu (16/5/2009). GKM merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika Komputer Muhammadiyah Jakarta (STMIK-MJ).
Acara yang diadakan di Kampus STMIK-MJ ini, bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan mengembangkan semangat dan jiwa kreativitas khususnya bagi mahasiswa STMIK-MJ. “Ini merupakan salah satu program kerja bidang organisasi GKM STMIK-MJ dan baru saat ini bisa terlaksana,” ujar Ketua Pelaksana Musik Pojok Adi Setiansyah.
Adi, begitu mahasiswa Semester IV Jurusan Teknik Informatika ini biasa disapa mengakui walaupun kegiatan ini berlangsung sangat sederhana dan tanpa persiapan yang matang, namun kegiatan ini sangat seru dan menyenangkan. Hal itu terlihat dari antusiasnya mahasiswa STMIK-MJ yang hadir.
“Saya rasa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk penyegaran bagi mahasiswa STMIK-MJ, setelah dari Senin-Jumat melakukan aktivitas kuliah,” kata mahasiswa yang pernah Juara I Lomba ICT Web Design yang diadakan oleh HISPII se-Indonesia di Batam akhir tahun 2008 ini.
Kegiatan yang dimulai dari pukul 13.00 WIB tersebut, tampak tak begitu banyak kendala. Hanya saja masalah peralatan musik yang bisa dibilang kurang memadai dan ada beberapa alat musik yang sudah rusak. “Tapi sejauh ini, alhamdulilah masih bisa diatasi. Hanya saja yang paling menghambat itu yah anak-anaknya pada jam karet alias pada ngaret datangnya,” ujarnya.
Yang paling istimewa menurut Adi adalah Ketua STMIK-MJ Dr. H.M. Givi Efgivia, M.Kom ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, yaitu dengan membawa keyboard untuk lebih melengkapi alat-alat musik STMIK-MJ yang masih kurang. “Wah jujur saya seneng banget atas perhatian yang beliau berikan, dalam kegiatan ini. Apalagi tadi temen-temen saya ikut bernyanyi yang diiringi musik oleh Pak Givi, “ ungkapnya.
Tak lupa, Ketua STMIK-MJ mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa STMIK-MJ Semester II, Semester IV, dan mahasiswa kelas malam yang bersedia mengisi kegiatan Musik Pojok ini sehingga terlihat lebih ramai dan seru. “Yang paling spesial saya ucapin makasih juga buat Pak Givi yang udah mendukung kegiatan ini dan mahasiswa yang ikut menyemarakkan Musik Pojok ini,” tuturnya senang.
Harap Adi ke depan, semoga kekompakan seluruh mahasiswa STMIK-MJ terus terjalin dan tetap menjaga silaturahmi. “Demi lebih meningkatkan jiwa kreativitas mahasiswa STMIK-MJ, insya Allah kegiatan ini akan berjalan rutin selama sebulan sekali,” katanya penuh harap.
Diplomasi Kebudayaan
Musik dapat juga dapat menjadi jembatan perselisihan dan mengandung unsur positif bagi tatanan sosial masyarakat. Kita bisa lihat pada beberapa konser musisi dan band ternama di Indonesia. Sebut saja musisi balada Iwan Fals yang menjadi 'Asian Heroes/ Pahlawan Asia' yang dinobatkan oleh Majalah Time edisi 29 April 2002 dari 25 tokoh di Asia. Bahkan ia menjadi cover majalah internasional tersebut karena berani untuk menyuarakan hati nurani rakyat dan kritik sosial pada masa pemerintahan Orde Baru sampai kini. Lalu Slank yang lagunya 'slenge-an' yang kini banyak juga isi liriknya mengandung kritikan sosial tentang korupsi.
Jika mengadopsi pemerhati sosial Joemardi Poetra dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bahwa musik kini menjadi diplomasi kebudayaan. Diplomasi lewat musik mengandung kelebihan tersendiri karena ia mampu ‘berdialog’ dengan siapapun dalam rangka mencairkan perselisihan dan bahkan mempersatukan hati dan pikiran. "Maka tidaklah mengherankan apabila diplomasi musik semakin sering ditampilkan sebagai bagian dari diplomasi kebudayaan," katanya.
Menurutnya, dalam banyak hal, musik telah menjadi keperluan lintas batas, ruang dan waktu sekaligus merupakan pendekatan yang paling praktis dan menyentuh dalam memanfaatkan kekuatan inovatif manusia untuk mewujudkan kepentingan bersama. Dengan kata lain, musik adalah bahasa universal yang dapat dipahami oleh semua orang, tanpa memandang asal-usul kultur, agama, dan sosial-politik.
Seperti yang dilakukan grup band asal Gang Potlot, Jakarta Selatan, Slank, selama menggelar tur promo album teranyar mereka yang bertema “Anthem for the Broken Hearted” di 15 kota di sembilan negara bagian Amerika Serikat, pada periode 22 Oktober-22 November 2008 merupakan bagian dari diplomasi kebudayaan antar dua negara lewat musik.
"Itu artinya, perjalanan Slank merupakan manifestasi dari kekuatan musik untuk mempersatukan manusia, khususnya mempererat hubungan kedua negara," katanya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok musik Kiai Kanjeng, pimpinan Emha Ainun Najib yang menyambangi tujuh kota di Belanda pada tanggal 6-20 Oktober. Sebuah lawatan yang bertema “Musik, Agama, Diplomasi Kebudayaan”. Mereka bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat Belanda, dari warga asli sampai imigran.
"Ini mewartakan, bahwa dengan musik kita berharap dapat meraih tingkat pengertian dan kerjasama yang akhirnya dapat mengurangi pemahaman salah kaprah antar tiap-tiap negara yang memiliki beragam budaya. Paling tidak, musik bisa menginternalisasikan nilai-nilia kemanusiaan dan kebudayaan di tengah pluralisme masyarakat Indonesia yang secara kuantitas sangat besar dengan tingkat kerawanan yang relatif juga besar," katanya.
Karenanya, kita perlu memposisikan potensi musik sebagai piranti utama antara warga dan bangsa-bangsa di dunia. Dalam konteks inilah musik berperan sebagai bahasa universal yang diharapkan dapat mencairkan kebekuan antar komunitas internasional yang tengah bermasalah. "Diplomasi lewat musik jauh lebih arif, daripada menggunakan jasa militer atas nama perdamaian," tambahnya. [\]
Laporan: Furry Restuningsih
|