Home Berita STMIK-MJ Baitul Arqam 2009: Karakter profesional mesti dibangun sejak kuliah
Baitul Arqam 2009: Karakter profesional mesti dibangun sejak kuliah
Ditulis oleh Rahmintama   
Senin, 11 Mei 2009 14:59

Lembang (STMIK-MJ): Mahasiswa sebagai penerus pembangunan bangsa memiliki peran strategis. Namun hal itu sering kali tidak dimanfaatkan atau tidak mau mengambil kesempatan tersebut. Hal itu karena orientasi mahasiswa saat ini lebih pragmatis ketimbang idealis ditambah lagi budaya individualis yang terus mengakar dan merasuk dalam kepribadiannya. Sehingga terkadang orientasi ini menjadi terpolanya perilaku-perilaku oportunistis yang negatif.

"Hal ini sangat disayangkan," tegas Puket IV Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Muhammadiyah Jakarta (STMIK-MJ) Bidang Pencitraan Al-Islam Kemuhammadiyahan SM Hasyir Alaydrus SSosI dalam sambutannya pada acara Baitul Arqam di Wisma Departemen Sosial (Depsos) Lembang, Jawa Barat, 23 April 2009.

Selama empat hari, 23-26 April 2009, mahasiswa Semester II (periode 2008/2009) STMIK-MJ mengikuti Baitul Arqam. Kegiatan ini merupakan kegiatan wajib bagi mereka, karena bertujuan untuk pembinaan kepemimpinan, sehingga akan melahirkan kader-kader baru IMM (Ikatan Mahasiswa dan Muhammadiyah) dan BEM (Badan Eksekutif  Mahasiswa) serta unit kegiatan mahasiswa lainnya di STMIK-MJ.

"Baitul Arqom adalah kegiatan wajib bagi mahasiswa Muhammadiyah karena hal ini berdasarkan karya majelis kancah Muhammadiyah tahun 2007," kata Hasyir.

Hasyir menambahkan, fenomena lain yang terjadi adalah kurang mampu memberdayakan waktu dan energi yang seimbang antara kegiatan akademik dan organisasi. Jarang sekali ada mahasiswa yang dapat menjalankan dua kegiatan ini dengan baik.

Bahkan tak jarang, mahasiswa tak mampu bekerja sama dalam satu tim. Sehingga kontribusi dalam menjalankan suatu kegiatan terjadi hambatan dan kendala. Jika hal ini terjadi kontribusi yang akan dilakukan kepada masyarakat menjadi kurang maksimal.

Padahal dengan memiliki kemampuan atau kecakapan bekerja bersama tim menjadi tolak ukur dari suatau perusahaan. Karena, kini banyak perusahaan yang mensyaratkan khusus mengenai riwayat organisasi dari mahasiswa tersebut di kampusnya.

Disisi lain, ketidaksembangan kegiatan akademik dan organisasi malah terjadi 'pengorbanan' kegiatan akademik. Fokusnya yang sangat berlebihan terhadap kehidupan berorganisasinya, mengakibatkan mahasiswa tipe 'organization oriented' ini tidak memiliki prestasi akademik yang baik, dan sering dicap ‘nasakom’ (nasib IPK satu koma).

Di tempat yang sama Ketua STMIK-MJ Dr HM Givi Efgivia Mkom mengatakan paradigma yang saat ini lebih dominan adalah mahasiswa ingin cepat lulus dan langsung kerja. Padahal bekal kemampuan akademik saja tidaklah cukup, jika tidak memiliki soft skill. "Soft skill sangat dibutuhkan dalam dunia kerja selain kecerdasan dan kemampuan pribadi," katanya.

Menurut Givi, pendidikan yang tidak terbatas pada wilayah formal saja, sehingga organisasi kepemudaan atau kegiatan mahasiswa dapat memberikan kontribusi yang positif bagi mahasiswa, terutama dalam pengembangan diri dan membangun pola pikir yang inovatif dan konstruktif bagi diri mahasiswa.

"Semangat dan antusias adalah hal penting yang harus ditanamkan dalam jiwa mahasiswa. Hal ini untuk melawan kendala-kendala negatif yang ada di dalam hati manusia, karena brain of thinking seorang manusia mempengaruhi pola pikir dan kesehatan seseorang. Berpikirlah positif dan bergaullah pada orang-orang posistif sehingga kita akan tertular sukses pula," kata pria tiga anak ini.

Ia menambahkan, kemampuan otak dan keterampilan tidaklah berguna untuk merubah seseorang yang tadinya tidak berdaya menjadi berdaya, melainkan harus adanya antusiasme dan soft skill yang kuat.

Pasalnya, proses pendidikan itu ditujukan untuk membangun bangsa, dan bukan menaikkan 'degree' semata. Idealisme yang dipupuk di masa kuliah harus diikuti dengan semangat profesionalisme ketika merintis kerja.

"Karena tidak sedikit mahasiswa yang lulus kurang memiliki soft skill dan karakter profesional ini. Bahkan tuntutan penguasaan bahasa internasional, sering kali diabaikan. Sehingga karakter dasar ini harus dipenuhi sejak kuliah," kata Givi.

Ketua STMIK-MJ mengingatkan kepada para peserta Baitul Arqam 2009 ini, jangan pernah merasa bahwa anda orang yang gagal. Anda harus selalu berpikir bagaimana cara mencapai sukses.

"Tidak ada yang terlambat untuk memperbaiki kegagalan. Hidup kita adalah teori pengkopian, yang tuntunannya berdasarkan Hadist Nabi. Maka, jika anda ingin sukses, lakukanlah pengkopian terhadap orang yang menurut anda layak untuk menjadi panutan," katanya.

Seperti kalimat bijak yang disampaikan oleh BJ Habiebie bahwa pola pikir sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang baik tersebut adalah lingkungan mampu berpikir merdeka untuk memberikan inovasi, kreatifitas, dan energi dalam membangun masyarakatnya melalui pemanfaatan Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) serta dengan keseimbangan Imtaq (iman dan taqwa).[\]

Laporan :Desi Widriani dan Fitriyani
 

Komentar (0)Add Comment
Tulis komentar
 
  lebih kecil | lebih besar
 

security image
Write the displayed characters


busy
LAST_UPDATED2