|
Jakarta (STMIK-MJ): Tahun 2009 ini sedikitnya ada 900 ribu sarjana dilaporkan menganggur. Mereka berasal dari 2.900 perguruan tinggi yang ada dengan berbagai disiplin ilmu. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 740 ribu sarjana. Sungguh memprihatinkan.
"Tiap tahun ada sedikitnya 300 sarjana baru di Indonesia. Dari jumlah itu, rata-rata 20 persennya jadi pengangguran," kata Rektor Universitas Atmajaya FG Winarno, belum lama ini.
Tingginya angka penangguran dikalangan sarjana ini, lanjut Winarno, tak lepas dari rendahnya keterampilan diluar kompetensi utama sebagai sarjana. Padahal untuk menjadi seorang lulusan yang siap kerja, keterampilan diluar bidang akademik, terutama yang berhubungan dengan entrepreneur (kewirausahawan) sangat dibutuhkan.
Di Indonesia sendiri dikatakan Winarno, jumlah entrepreneur sangat minim. Tahun 2007 lalu baru tercatat 0,18% atau 400 ribu dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta.
Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Singapura, jumlah wirausahawan sudah mencapai lebih dari 2 persen. Bahan di Singapura berkembang pesat menjadi sekira 7 persen.
"Jika mengacu pada jumlah ideal 2 persen saja, maka idealnya jumlah wirausahawan kita itu ada 4,4 juta orang," kata Winarno.
Untuk itu, tambah Winarno, pemimpin yang akan datang harus terus mengupayakan program pendidikan keterampilan yang menunjang industri keratif, guna menekan angka pengangguran akibat kurangnya lapangan pekerjaan.
"Calon sarjana kini dan masa depan harus bisa berpikir bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan. Tugas pemerintah selanjutnya adalah memfasilitasi sistem pendidikan yang menunjang lahirnya industri kreatif," tandas Winarno.
Oleh karena itu pendidikan berbasis kompetensi menjadi sumbangan yang besar bagi calon-calon sarjana. Bila mereka mahir dalam bidang tertentu seperti ICT, bahasa asing, kerajinan tangan, kesenian dan bidang-bidang yang memicu lahirnya industri kreatif maka para sarjana tersebut tidak akan menganggur dan selalu ada ide dalam melakukan kreatifitas.[\]
|