|
Canbera (STMIK-MJ): Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, Australia tidak bisa terus-menerus menjadikan pemberlakuan "travel advisory" (peringatan perjalanan) alasan untuk tidak memperbaiki ketimpangan jumlah mahasiswanya yang belajar di Indonesia.Pernyataan itu disampaikannya kepada wartawan seusai mengikuti acara ramah-tamah dengan kalangan mahasiswa dan warga masyarakat Indonesia di Kedutaan Besar RI di Canberra, Senin malam.
Perihal pemberlakuan "travel advisory" level empat pemerintah Australia terhadap Indonesia dan ketimpangan jumlah mahasiswa Australia dan Indonesia yang belajar di masing-masing negara juga disinggung Mendiknas Bambang Sudibyo dalam ceramahnya di acara ramah-tamah itu.Ia mengatakan, jumlah mahasiswa Australia yang belajar di Indonesia kurang dari 50 orang. Jumlah ini sangat tidak sebanding tidak hanya dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia, tetapi juga dengan persentase ideal jumlah mahasiswanya dengan jumlah penduduknya.
Dilihat dari sumberdaya dan potensi yang dimiliki kedua negara, banyak kolaborasi yang bisa dilakukan Australia dan Indonesia. "Australia bisa banyak belajar dari Indonesia."Bagi orang-orang Australia yang ingin belajar bahasa dan budaya Indonesia, jangan pergi ke Inggris, tapi ke Indonesia. Begitu juga kalau mereka hendak belajar masalah yang terkait dengan kegempaan, mereka bisa datang ke Indonesia, katanya.
Untuk meyakinkan pihak-pihak terkait di negara itu, Bambang Sudibyo mengatakan, pihaknya menyertakan para rektor dan wakil rektor dari enam perguruan tinggi terbaik Indonesia walaupun warga Australia tidak harus belajar di enam universitas ini, katanya.Ia menyebut, Indonesianis ternama Fakultas Studi Asia Universitas Nasional Australia (ANU), Dr.George Quinn, sebagai contoh nyata bahwa mutu lembaga pendidikan tinggi Indonesia tidak kalah dari negara yang lain, karena George Quinn menamatkan studi tingkat sarjana (BA)-nya dari Fakultas Sastra UGM.
"Jadi banyak kolaborasi yang bisa dilakukan dua pihak yang latarbelakangnya berbeda seperti Indonesia dan Australia," kata Mendiknas.
Australia pun selama ini merupakan mitra penting yang banyak menerima limpahan mahasiswa dari Indonesia, katanya.
Berdasarkan catatan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia, jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia yang terdaftar di lembaga-lembaga pendidikan negara itu mencapai 15 ribu orang. Kehadiran mereka itu memberikan pemasukan bagi perekonomian Australia hampir sebesar 500 juta dolar Australia per tahun.
Delegasi Diknas RI yang dipimpin langsung Mendiknas Bambang Sudibyo tiba di Canberra, Minggu siang, untuk melakukan kunjungan hingga Selasa.Selain mengikuti acara ramah-tamah dengan mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang turut dihadiri Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb dan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Mendiknas sebelumnya bertemu dengan pimpinan "Universities Australia" Dr.Glenn Withers.
Dalam pertemuan itu, Menteri menandatangani Nota Kesepahaman Kerja Sama Pendidikan dan Pelatihan dengan Wakil Perdana Menteri yang juga Menteri Pendidikan Australia Julia Gillard.Selama kunjungannya di Canberra itu, Mendiknas didampingi Dirjen Pendidikan Tinggi Dr.Fasli Jalal dan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Suyanto, serta para rektor Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Diponegoro, serta wakil rektor Universitas Airlangga Surabaya. (ant/***)
|