Home Berita Artikel Ustadz Hasyir Dakwah dan Kebudayaan
Dakwah dan Kebudayaan
Ditulis oleh Drs. SM Hasyir Alaydrus, S. Sos. I   
Minggu, 07 Desember 2008 21:16

Budaya atau kebudayaan adalah spesifik manusiawi. Manifestasi dan perwujudan dari segala aktivitas manusia sebagai upaya untuk memudahkan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebudayaan terdiri dari nilai dan simbol. Nilai-nilai budaya itu tidak kasat mata, sedangkan simbol budaya yang merupakan perwujudan nilai itulah yang kasat mata. (Kuntowijoyo, 2002). Masjid, pasar, sekolah, rumah misalnya adalah perwujudan dari nilai-nilai budaya masyarakatnya. Setiap perwujudan aktivitas manusia nilai-nilai budaya senantiasa hadir dan semua punya nilai budaya, walau terkadang tidak merupakan simboi budaya.

Dakwah adalah panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah, yaitu jalan menuju Islam. Sebagai dinullah, Islam bersumber dari wahyu Allah dan Sunnah Rasul-NYA, ia merupakan sumber nilai yang akan memberikan corak, warna dan bentuk kebudayaan Islam. Suatu bentuk kebudayaan yang berisikan pesan atau nilai-nilai islami (menurut kacamata Al Qur’an dan As-Sunnah), sekalipun ia muncul dari orang atau masyarakat bukan penganut dinul-islam. Demikian juga sebaliknya, tidak dikatakan budaya Islam, walau ia lahir dari orang atau masyarakat penganut dinul-islam, jika tidak memuat pesan atau nilai-nilai Islami.

Dalam perspektif dakwah Islam, budaya atau kebudayaan adalah aktualisasi dari sikap tunduk (ibadah atau peribadatan) manusia kepada Allah. Salah satu analog yang menunjukkan simbol  sdan nilai budaya sebagai sikap tunduk pada Allah, tertera dalam Al Qur'an surat  ASY SYUAARA [26] ayat 224-227:
 

"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?, kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali". (QS.Asy syuaara/26:224-227).

Ayat di atas mennginformasikan, ada dua jenis budaya yang diwakili oleh sosok pelakunya. Pertama Budaya yang dibangun dengan dimensi TAQWA yang diwakili oleh sosok pelaku budaya yang beriman , beramal shaleh, dan senantiasa berdzikir mengingat Allah serta sabar menghadapi kezaliman.

Jika disepakati bahwa budaya itu spesifik manusiawi, maka pengaruh ideologi, pandangan hidup, sikap hidup, , dan cara berpikir pelaku atau peletak budaya itu menjadi nilai dasar dari bentuk budaya tersebut.
Dengan demikian seseorang yang memiliki keshalehan individual dan keshalehan sosial dalam dirinya, tentu akan melahirkan jenis budaya yang juga beroreintasi memudahkan jalan orang lain atau masyarakat untuk menjadi shaleh (al Khair al Ummah).

Seseorang yang berlatar belakang ideologi komunis atau kapitalis, misalnya, tentu juga akan menampilkan bentuk budaya dengan orientasi dan cara berpikir ideology dimasud dalam membangun tatanan masyarakatnya.

Terkait dengan fungsi dakwah dalam tatatan budaya masyarakat (transhistoris), Muhammadiyah mengedepakan dua fungsi dakwah, yaitu FUNGSI KERISALAHAN dan FUNGSI KERAHMATAN.

Fungsi Kerisalahan adalah berarti meneruskan tugas Rasulullah SAW (Q.S. Al Maidah ayat 67) menyampaikan Dinul Islam kepada Seluruh Ummat Manusia (Ali Imran 104, 110 dan114). Dakwah dalam konteks ini adalah suatu proses alih nilai (transfer of value) yang dikembangkan dlm. rangka perubahan tingkah laku, termasuk tingkah laku budaya. Misalanya dari prilaku budaya TBC menjadi prilaku budaya bertauhid.

Fungsi Kerahmatan adalah berarti upaya menjadikan (mengejawantah, mengaktualkan, mengoperasionalkan) Islam sebagai rahmat (pensejahtera, pembahagia, pemecahpersoalan) bagi seluruh manusia (Q.S.Al Anbiyah 107) . Dakwah pada tataran fungsi ini adalah upaya menjadikan Islam sebagai sumber konsep bagi manusia dalam meniti kehidupannya didunia. Usha menterjemahkan nilai-nilai normatif Islam menjadi konsep-konsep yang operasional di berbagai aspek kehidupan manusia. Termasuk juga implementasi konsep-konsep tersebut dalam kehidupan aktual manusia, baik individu, keluarga, dan masyarakat.

Setiap muslim dalam pandangan konsepsi Dakwah Islam, adalah Da’i (para penyeru perubahan) dalam budayanya masing-masing, oleh sebab itu selayaknya seorang muslim itu mengakrualisasikan fungsi dakwah tersebut di atas, untuk membangun budaya yang beradab, mencerahkan, berkemajuan, dan dan diridhoi oleh Allah SWT. Allahu ‘alam bishshawwab.
 

 

Komentar (2)Add Comment
0
hamba allah
September 04, 2009
118.96.54.153
Votes: +0
...

pak tolong jangan persulit kami di kompre al islam. Semoga Allah membalas kebaikan bapak

0
hamba allah
October 06, 2009
125.161.210.87
Votes: +0
...

iya pak jangan di persulit dong kompre aik nya..

Tulis komentar
 
  lebih kecil | lebih besar
 

security image
Write the displayed characters


busy
LAST_UPDATED2